Di banyak tempat, termasuk negeri kita tercinta, kebenaran sering kali bukan tentang apa yang nyata. Melainkan tentang siapa yang paling pandai membungkus cerita. Maka tak heran, di tengah masyarakat yang lebih menghargai kesan ketimbang esensi, suara kejujuran kerap dibungkam oleh tepuk tangan untuk para aktor citra.
🌎 Budaya “Yang Penting Kelihatan Baik”
Sudah menjadi rahasia umum: kita hidup dalam masyarakat yang cenderung mengukur kebaikan dari hal-hal permukaan.
-
Kalau seseorang murah senyum, maka ia dianggap baik.
-
Kalau seseorang blak-blakan dan tidak bisa basa-basi, maka ia dianggap tidak sopan.
-
Kalau seseorang suka menolong secara terbuka, maka ia disebut dermawan—tak peduli apa motifnya.
Di sisi lain, orang yang menyimpan luka dan akhirnya bersuara dianggap sebagai pembuat masalah. Padahal bisa jadi, ia satu-satunya orang yang berani keluar dari sandiwara.
🧐 NPD dan Citra Palsu: Kombinasi yang Sulit Diurai
Orang dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sangat pandai membaca celah budaya ini. Mereka tahu bahwa di masyarakat yang tidak kritis:
-
Asal tampil sopan, mereka dipercaya.
-
Asal terlihat peduli, mereka dikagumi.
-
Asal bisa membuat orang lain merasa kasihan, mereka dijadikan korban yang ‘harus dimengerti’.
Maka jangan heran, ketika seseorang berani bersuara dan membongkar manipulasi itu, justru dia yang dianggap berlebihan, emosional, bahkan durhaka.
⚡ Kenapa Korban Bisa Terlihat Seperti Penjahat?
-
NPD lebih dulu menyebar narasi. Mereka tahu memainkan waktu dan perasaan. Saat kamu masih sibuk menyembuhkan luka, mereka sudah “curhat” ke orang-orang, membentuk opini.
-
Korban sering marah, karena frustrasi. Tapi justru kemarahan itulah yang dijadikan ‘bukti’ bahwa korban tidak stabil.
-
Orang-orang lebih suka cerita yang nyaman. Kebenaran itu pahit. Maka mereka memilih percaya pada cerita yang lebih rapi, meskipun palsu.
📆 Maka Apa yang Bisa Dilakukan?
-
Bangun kredibilitas, bukan amarah. Jangan buru-buru meyakinkan semua orang. Cukup jadi pribadi yang konsisten, sabar, dan terus menulis atau berbicara dengan nada jernih.
-
Jangan bermain di panggung mereka. Saat kamu terpancing, mereka akan menjadikan reaksi itu sebagai ‘bukti’ bahwa kamu bermasalah. Maka tetaplah seperti kabut: tak bisa dipeluk, tak bisa dipukul.
-
Pilih siapa yang layak diberi penjelasan. Tidak semua orang mau mendengar. Tapi 1–2 orang yang paham jauh lebih berharga daripada 100 yang hanya menilai dari permukaan.
-
Gunakan narasi reflektif. Jangan menyebut nama. Jangan membongkar aib. Tapi bicara lewat tulisan atau kisah umum yang menyentuh nurani.
🌟 Penutup: Suara yang Lembut Tapi Teguh
Kamu tidak harus membuktikan dirimu pada dunia yang tidak siap mendengar. Tapi kamu bisa tetap bertahan, tetap waras, dan tetap tumbuh—tanpa harus meminjam suara siapa pun.
Karena pada akhirnya, kebenaran tidak butuh pembelaan keras. Ia hanya butuh tempat untuk tumbuh. Dan tempat itu, bisa dimulai dari dirimu sendiri.
![]() |
| Ilustrasi menyebutkan kebenaran (sumber foto pixabay.com) |





Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Kenapa Kebenaran Sulit Diterima di Masyarakat yang Mengagungkan Citra"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*